Sunday, August 26, 2018

Cerpen (tugas BI) : Sekolah Baru


SEKOLAH BARU
Cahaya matahari mengintip dari balik jendela kamarku, memaksaku untuk terbangun. Hari ini adalah hari pertamaku duduk di kelas 11. Hari pertama masuk sekolah aku sangat tidak bersemangat karena aku pindah ke sekolah baru. Padahal aku sudah nyaman dengan sekolah lamaku, aku malas jika harus menemui teman-teman baru dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sekolah ku masuk pukul 7 jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk bersiap. Setelah aku beranjak dari tempat tidur aku segera menuju kamar mandi untuk mandi. Lalu aku memakai seragam ku dan menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa kesekolah.
“Pagi Ma,” sapa ku saat sampai di meja makan untuk sarapan.
“Pagi Nad, hari pertama masuk sekolah kok muka nya lesu sih? Harusnya semangat dong sayang,” jawab mama sambil memelukku.
Mama memang peka sekali orangnya, susah sekali untuk menyembunyikan sesuatu dari mama.
“Gimana mau semangat, aku kan belum kenal sama anak-anak disekolah baru. Aku malas sekali harus berkenalan dengan teman-teman baru lagi,” kata ku.
“Yaudah jalani aja sih Nad, nanti juga pasti ketemu teman yang cocok,” kata kakak ku.
Aku hanya meliriknya dan tak menjawab pertanyaannya. Aku segera mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya. Itu adalah sarapan favoritku setelah nasi goreng. Setelah selesai sarapan aku segera memakai tas dan sepatuku.
“Ma, Nadira berangkat dulu ya! Assalamualaikum!” pamit ku ke mama. Lalu aku pun berangkat ke sekolah baruku.
Aku sekarang sudah berada di depan gedung besar dengan cat dinding warna hijau yang dominan. SMAN 1 Bandung. Ini adalah sekolah baruku. Terlihat asri dari luar karena banyak tanaman hijau didalamnya. Banyak mobil dan motor yang mengantri masuk kedalam area sekolah. Aku menarik nafas ku dan menghembuskan nya lalu masuk kedalam gerbang sekolah tersebut. Aku merasa sangat gugup sekarang memikirkan apakah teman-teman baru ku nanti bisa berteman baik denganku.
Aku berjalan memutari area sekolah untuk mencari kelas ku yaitu kelas 11 IPA 2. Sudah 10 menit aku berkeliling tapi tidak juga menemukan kelas ku. Aku ingin bertanya dengan siswa-siswi yang lewat tapi aku malu. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiriku.
“Hai, kamu anak baru?” kata anak itu. Bagaimana bisa dia tau kalau aku anak baru?
“Iya, kenalin namaku Nadira. Kamu kok bisa tau sih aku anak baru?”
“Hahaha, aku hanya menebak saja. Kamu terlihat kebingungan sih,” jawabnya. Benar juga ya.
“Oh iya namaku Lisa, kamu mencari kelas apa?” katanya.
“Disini sih ditulis aku masuk kelas 11 IPA 2,” kata ku sambil menunjukkan kertas yang kubawa.
“Wah pas sekali! Berarti kita sekelas. Yaudah yuk ikut aku,”
Aku dan Lisa pun berjalan menuju kelas 11 IPA 2. Lisa menjadi teman pertama ku disini. Dia terlihat baik, dia juga cantik sekali pasti dia terkenal disekolah ini. Saat sampai dikelas, suasana kelas sudah ramai sekali dan ketika aku masuk, mereka melirik ke arah ku.
Aku paling tidak suka dengan keadaan seperti ini. Aku menunduk dan segera menuju tempat duduk disebelah Lisa. Saat bel sekolah berbunyi kami semua duduk di tempat duduk masing-masing. Lalu guru pelajaran pertama pun masuk.
“Selamat pagi anak-anak,”
“Pagi, Bu Fia”
“Hari ini kalian mempunyai teman baru. Nadira, silahkan perkenalkan dirimu di depan,” kata Bu Fia sambil melirik ke arahku.
Aku pun memperkenalkan diriku di depan. Setelah itu kami melanjutkan pelajaran sampai jam istirahat.  Lisa mengajakku ke kantin bersama teman-teman nya yang lain yaitu Shafira, Bela dan Vanessa. Mereka seru dan tidak canggung denganku.
“Nad mau makan apa? Biar aku yang pesenin,” tanya Bela.
“Aku mau es teh aja Bel, makasih ya,” jawabku.
Setelah Bela pergi membeli pesanan kami, aku dan teman-teman ku berbincang-bincang. Namun saat sedang asik berbincang ada suara piring jatuh lalu saat ku melihat siapa yang menjatuhkan piring, ternyata itu Bela. Ia menjatuhkan makanan yang kami pesan dan es teh yang ku pesan mengenai baju seorang siswa. Aku segera mendatangi Bela.
“Kalau jalan pakai mata dong, liat nih baju ku basah!” teriak anak cowok itu ke Bela. Bela terlihat ketakutan.
“Ma.. maaf aku nggak sengaja Dev,” jawab Bela gugup. Ternyata nama anak itu adalah Deva saat aku melihat name tag nya.
“Duh! Maaf mu nggak bisa buat baju ku bersih lagi kan?” bentak nya lagi. Bela hanya tertunduk diam. Aku kasian melihat Bela.
“Apa sih, dia udah minta maaf nggak usah bentak gabisa ya?” jawabku sinis di hadapan nya.
“Eh anak baru nggak usah ikut campur deh!”
Dari cara bicaranya sudah terlihat bahwa Deva adalah anak yang keras kepala. Karena aku malas menanggapi perkataannya aku pun menarik Bela keluar dari kerumunan. Ya, kami dikerumuni banyak anak-anak karena bertengkar. Percuma saja aku lanjutkan toh Deva tidak mau kalah dan juga Bela sudah minta maaf.
Namun saat aku dan Bela sudah berjalan menuju meja, ada seseorang yang menumpahkan minuman di atas kepalaku. Saat aku menoleh ternyata dia adalah Deva. Apa maksudnya?
“Mau mu apa sih Dev!” kataku marah.
“Kamu pikir dengan minta maaf kamu bisa seenaknya pergi? Baju ku masih kotor aku gamau tau gimana caranya aku mau baju seragam baru!”
“Eh baju itu dicuci juga udah bersih lagi Dev ngapain harus beli seragam baru? Bela juga nggak sengaja numpahin minumannya,” jelas ku dengan sabar.
“Gabisa gitu! Aku mau seragam baru!”
Lalu tiba-tiba bu Fia mendatangi kami. Sepertiny ada yang melapor ke bu Fia tentang kejadian ini.
“Kalian bertiga ! Ke ruang BK sekarang!” perintahnya.
Mau tidak mau aku, Bela dan Deva pun berjalan menuju BK.  Diperjalanan kami hening aku masih kesal dengan Deva, hanya karena masalah kecil kita sampai harus ke BK. Hari pertama masuk sekolah aku sudah membuat masalah.
“Ada apa dengan kalian?” kata pak Dedi saat kami sudah sampai di ruang BK.
“Ini pak Bela tadi menyiram saya dengan minuman,” kata Deva. Bisa-bisanya dia berbohong.
“Maaf pak, tapi Bela tidak sengaja menumpahkan minumannya. Deva yang sengaja menyiram saya dengan minuman,” jawab ku.
“Eh enak aja! Nggak usah bohong kamu Nad!” elak nya.
“Sudah sudah! Kalian ini sudah besar masa masih harus dipanggil ke BK hanya karena masalah kecil seperti ini! Sekarang kalian saling minta maaf lalu lari keliling lapangan 5 kali!” Aku benci lari. Aku benci Deva. Karena dia aku harus berlari keliling lapangan 5 kali. 
Lalu kami pun hanya meng-iyakan perintah pak Dedi. Saat sampai di lapangan kami pun berlari. Saat berlari aku memikirkan kejadian tadi. Aku sadar benar juga coba kalau salah satu dari kami mau mengalah pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Selesai berlari aku berencana untuk meminta maaf ke Deva.
“Dev,”
“Nad,”
“Eh kamu dulu deh,” kata ku mengalah karena kami tak sengaja berbicara bersamaan.
“Hmm gini , aku mau minta maaf aku nggak sepantasnya bersikap kayak tadi,” katanya.
“Aku juga Dev, maaf ya harusnya aku nggak boleh terlalu ikut campur urusan orang,” jawab ku.
“Wajar kok kan Bela teman mu. Aku juga nggak seharusnya bentak Bela kayak gitu. Maaf ya Bel,” ia menghadap Bela dan meminta maaf. Bela hanya mengangguk.
                                                             
Setelah kejadian itu aku dan Deva menjadi teman dekat. Ternyata dia anak yang asik. Ia juga bersikap lebih baik semenjak kejadian itu. Ternyata hari pertama ku di SMAN 1 Bandung seru juga. Banyak kejadian yang tak terduga namun itu semua membuatku memiliki teman-teman yang seru dan baik.

No comments:

Post a Comment