SEKOLAH BARU
Cahaya matahari mengintip dari balik jendela kamarku,
memaksaku untuk terbangun. Hari ini adalah hari pertamaku duduk di kelas 11.
Hari pertama masuk sekolah aku sangat tidak bersemangat karena aku pindah ke
sekolah baru. Padahal aku sudah nyaman dengan sekolah lamaku, aku malas jika
harus menemui teman-teman baru dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sekolah ku masuk pukul 7
jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk bersiap. Setelah aku beranjak dari tempat
tidur aku segera menuju kamar mandi untuk mandi. Lalu aku memakai seragam ku
dan menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa kesekolah.
“Pagi Ma,” sapa ku saat sampai di meja makan untuk
sarapan.
“Pagi Nad, hari pertama masuk sekolah kok muka nya lesu
sih? Harusnya semangat dong sayang,” jawab mama sambil memelukku.
Mama memang peka sekali orangnya, susah sekali untuk
menyembunyikan sesuatu dari mama.
“Gimana mau semangat, aku kan belum kenal sama
anak-anak disekolah baru. Aku malas sekali harus berkenalan dengan teman-teman
baru lagi,” kata ku.
“Yaudah jalani aja sih Nad, nanti juga pasti ketemu
teman yang cocok,” kata kakak ku.
Aku hanya meliriknya dan tak menjawab pertanyaannya.
Aku segera mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya. Itu
adalah sarapan favoritku setelah nasi goreng. Setelah selesai sarapan aku
segera memakai tas dan sepatuku.
“Ma, Nadira berangkat dulu ya! Assalamualaikum!” pamit
ku ke mama. Lalu aku pun berangkat ke sekolah baruku.
Aku sekarang sudah berada di depan gedung besar dengan
cat dinding warna hijau yang dominan. SMAN 1 Bandung. Ini adalah sekolah
baruku. Terlihat asri dari luar karena banyak tanaman hijau didalamnya. Banyak
mobil dan motor yang mengantri masuk kedalam area sekolah. Aku menarik nafas ku
dan menghembuskan nya lalu masuk kedalam gerbang sekolah tersebut. Aku merasa
sangat gugup sekarang memikirkan apakah teman-teman baru ku nanti bisa berteman
baik denganku.
Aku berjalan memutari area sekolah untuk mencari kelas
ku yaitu kelas 11 IPA 2. Sudah 10 menit aku berkeliling tapi tidak juga
menemukan kelas ku. Aku ingin bertanya dengan siswa-siswi yang lewat tapi aku
malu. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiriku.
“Hai, kamu anak baru?” kata anak itu. Bagaimana bisa
dia tau kalau aku anak baru?
“Iya, kenalin namaku Nadira. Kamu kok bisa tau sih aku
anak baru?”
“Hahaha, aku hanya menebak saja. Kamu terlihat
kebingungan sih,” jawabnya. Benar juga ya.
“Oh iya namaku Lisa, kamu mencari kelas apa?” katanya.
“Disini sih ditulis aku masuk kelas 11 IPA 2,” kata ku
sambil menunjukkan kertas yang kubawa.
“Wah pas sekali! Berarti kita sekelas. Yaudah yuk ikut
aku,”
Aku dan Lisa pun berjalan menuju kelas 11 IPA 2. Lisa
menjadi teman pertama ku disini. Dia terlihat baik, dia juga cantik sekali
pasti dia terkenal disekolah ini. Saat sampai dikelas, suasana kelas sudah
ramai sekali dan ketika aku masuk, mereka melirik ke arah ku.
Aku paling tidak suka dengan keadaan seperti ini. Aku
menunduk dan segera menuju tempat duduk disebelah Lisa. Saat bel sekolah
berbunyi kami semua duduk di tempat duduk masing-masing. Lalu guru pelajaran
pertama pun masuk.
“Selamat pagi anak-anak,”
“Pagi, Bu Fia”
“Hari ini kalian mempunyai teman baru. Nadira, silahkan
perkenalkan dirimu di depan,” kata Bu Fia sambil melirik ke arahku.
Aku pun memperkenalkan diriku di depan. Setelah itu
kami melanjutkan pelajaran sampai jam istirahat. Lisa mengajakku ke kantin bersama teman-teman
nya yang lain yaitu Shafira, Bela dan Vanessa. Mereka seru dan tidak canggung
denganku.
“Nad mau makan apa? Biar aku yang pesenin,” tanya Bela.
“Aku mau es teh aja Bel, makasih ya,” jawabku.
Setelah Bela pergi membeli pesanan kami, aku dan
teman-teman ku berbincang-bincang. Namun saat sedang asik berbincang ada suara
piring jatuh lalu saat ku melihat siapa yang menjatuhkan piring, ternyata itu
Bela. Ia menjatuhkan makanan yang kami pesan dan es teh yang ku pesan mengenai
baju seorang siswa. Aku segera mendatangi Bela.
“Kalau jalan pakai mata dong, liat nih baju ku basah!”
teriak anak cowok itu ke Bela. Bela terlihat ketakutan.
“Ma.. maaf aku nggak sengaja Dev,” jawab Bela gugup.
Ternyata nama anak itu adalah Deva saat aku melihat name tag nya.
“Duh! Maaf mu nggak bisa buat baju ku bersih lagi kan?”
bentak nya lagi. Bela hanya tertunduk diam. Aku kasian melihat Bela.
“Apa sih, dia udah minta maaf nggak usah bentak gabisa
ya?” jawabku sinis di hadapan nya.
“Eh anak baru nggak usah ikut campur deh!”
Dari cara bicaranya sudah terlihat bahwa Deva adalah
anak yang keras kepala. Karena aku malas menanggapi perkataannya aku pun
menarik Bela keluar dari kerumunan. Ya, kami dikerumuni banyak anak-anak karena
bertengkar. Percuma saja aku lanjutkan toh Deva tidak mau kalah dan juga Bela
sudah minta maaf.
Namun saat aku dan Bela sudah berjalan menuju meja, ada
seseorang yang menumpahkan minuman di atas kepalaku. Saat aku menoleh ternyata
dia adalah Deva. Apa maksudnya?
“Mau mu apa sih Dev!” kataku marah.
“Kamu pikir dengan minta maaf kamu bisa seenaknya
pergi? Baju ku masih kotor aku gamau tau gimana caranya aku mau baju seragam
baru!”
“Eh baju itu dicuci juga udah bersih lagi Dev ngapain
harus beli seragam baru? Bela juga nggak sengaja numpahin minumannya,” jelas ku
dengan sabar.
“Gabisa gitu! Aku mau seragam baru!”
Lalu tiba-tiba bu Fia mendatangi kami. Sepertiny ada
yang melapor ke bu Fia tentang kejadian ini.
“Kalian bertiga ! Ke ruang BK sekarang!” perintahnya.
Mau tidak mau aku, Bela dan Deva pun berjalan menuju
BK. Diperjalanan kami hening aku masih
kesal dengan Deva, hanya karena masalah kecil kita sampai harus ke BK. Hari
pertama masuk sekolah aku sudah membuat masalah.
“Ada apa dengan kalian?” kata pak Dedi saat kami sudah
sampai di ruang BK.
“Ini pak Bela tadi menyiram saya dengan minuman,” kata
Deva. Bisa-bisanya dia berbohong.
“Maaf pak, tapi Bela tidak sengaja menumpahkan
minumannya. Deva yang sengaja menyiram saya dengan minuman,” jawab ku.
“Eh enak aja! Nggak usah bohong kamu Nad!” elak nya.
“Sudah sudah! Kalian ini sudah besar masa masih harus
dipanggil ke BK hanya karena masalah kecil seperti ini! Sekarang kalian saling
minta maaf lalu lari keliling lapangan 5 kali!” Aku benci lari. Aku benci Deva.
Karena dia aku harus berlari keliling lapangan 5 kali.
Lalu kami pun hanya meng-iyakan perintah pak Dedi. Saat
sampai di lapangan kami pun berlari. Saat berlari aku memikirkan kejadian tadi.
Aku sadar benar juga coba kalau salah satu dari kami mau mengalah pasti
kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Selesai berlari aku berencana untuk
meminta maaf ke Deva.
“Dev,”
“Nad,”
“Eh kamu dulu deh,” kata ku mengalah karena kami tak
sengaja berbicara bersamaan.
“Hmm gini , aku mau minta maaf aku nggak sepantasnya
bersikap kayak tadi,” katanya.
“Aku juga Dev, maaf ya harusnya aku nggak boleh terlalu
ikut campur urusan orang,” jawab ku.
“Wajar kok kan Bela teman mu. Aku juga nggak seharusnya
bentak Bela kayak gitu. Maaf ya Bel,” ia menghadap Bela dan meminta maaf. Bela
hanya mengangguk.
Setelah kejadian itu aku dan Deva menjadi teman dekat.
Ternyata dia anak yang asik. Ia juga bersikap lebih baik semenjak kejadian itu.
Ternyata hari pertama ku di SMAN 1 Bandung seru juga. Banyak kejadian yang tak
terduga namun itu semua membuatku memiliki teman-teman yang seru dan baik.
No comments:
Post a Comment